Postingan

Menampilkan postingan dengan label Khayalanku

There's a HERO

Sebuat saja dengan, ia. Anak kecil baru beranjak usia sekitar 5 tahun. Ia memandang poster seorang laki-laki tepatnya seperti siluet yang hanya berwarna hitam pada subjeknya dan putih di latar belakangnya, terpampang dengan wajah tegas dan mengenakan blangkon di kepalanya, yang berada di dinding kelasnya. “Itu gambar siapa bu Guru?” tanya ia sambil menunjuk jari telunjuknya ke poster yang mirip siluet itu. “Oh, itu gambar pahlawan, sayang.” jawab gurunya. “Pahlawan itu apa?” tanya ia dengan wajah polos. “Pahlawan itu orang yang sudah berjasa untuk Negara kita yaitu Indonesia, sayang. Dengan seluruh kekuatannya mereka membela Negara kita sampai akhirnya merdeka.” jelas si ibu guru itu. “Oh, begitu ya, bu.” ucapnya masih dengan wajah polos. *** Ia duduk di lantai dengan tangan yang berada di atas meja depan badannya sepertinya menulis sesuatu, sembari menemani kakaknya yang sedang menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri dan ia. Pahlawan, ya, ia menulis satu kata,...

Just Move On

Gambar
Ia menelusuri setiap lorong, berjalan dengan langkah gontai. Segontai-gontainya. Ia tak tahu apa yang mau ia tuju. Lorong itu panjang, dan cukup gelap. Entah kenapa ia berani berjalan sendiri di tempat seperti itu tanpa tujuan yang jelas. Dan sampai di penghujung lorong, ia tiba-tiba menangkap suatu objek yang membuat matanya terbelalak. Seorang laki-laki bertubuh jangkung sedang berjalan membelakanginya, cukup jauh memang. Segera ia berlari menghampiri laki-laki itu. Meraih tangannya yang cukup hangat. Dan sembari berkata, “Kamu… Aku mencarimu dari kemarin. Aku kangen. Boleh aku memelukmu?” Sontak lelaki itu berbalik badan menghadapnya dan menatap perempuan itu dengan tampang aneh, tak mengerti apa yang dimaksud si perempuan itu. Untung saja sang perempuan belum sempat mendekapkan badan kecilnya ke badan laki-laki jangkung itu, dan ia menatap ke atas wajah laki-laki itu yang jauh lebih tinggi darinya. Tercengang. “Eh, maaf. Aku kira kamu…” “Dasar perempuan aneh!” Laki-laki itu...

Di Balik 10 Tahun Yang Akan Datang Part II (END)

Sebelumnya baca : Part I :))))                 Sudah sekitar 2 bulan, aku tak bersama Ary. Rasanya hari-hariku mendung tak mendengar suaranya maupun tawanya dan tak melihat matanya maupun batang hidungnya. Aku menyesal belum sempat jujur padanya, tapi aku harap bersabar sampai waktu yang tepat. Karena aku tahu, cinta bukannya datang tak tepat waktu tapi ia lebih memilih waktu dimana cinta itu akan memberikan sebuah kebahagiaan. Dan aku bersyukur, walaupun aku dan Ary terpisah jarak, kita masih bisa berkirim sms, whatsapp, maupun line. Aku tak pernah merasa lost-contact dengannya.                 Akhirnya yang aku tunggu-tunggu datang juga, sebuah pesan dari Ary yang berisi, ‘ Aku akan pulang mungkin lusa. Jadi, aku harap kamu bisa menjemputku di stasiun yang tak jauh dari komplek kita.’ Dan, ya, speechless aku membacanya. Aku tak...

Di Balik 10 Tahun Yang Akan Datang Part I

                Terlihat senja menyapa di ufuk barat sembari mengiringi kepulangan mentari ke peraduannya, yang seraya tersenyum sendu padaku dan pada seorang anak laki-laki yang duduk di sampingku di bangku taman belakang rumahku, usianya baru sekitar satu windu —sama sepertiku. Ary namanya. Sambil menikmati suasana senja, seperti biasa, kita saling bercanda dan bersenda gurau, dan kadang kita bermain skyboard pula, kesukaanku. “Ry?” “Apa?” “Sepuluh tahun yang akan datang, kira-kira kita masih bisa bersama seperti ini nggak ya?” tanyaku. “Masih.” jawabnya. “Kamu yakin?” “Yakin, kok.” ucapnya meyakinkanku, sembari menjulurkan jari kelingkingnya, akupun segera mengaitkan jari kelingkingku ke kelingkingnya seraya berjanji. “Tunggu sebentar, ya. Kamu di sini aja.” suruhnya. Segera ia berlari menuju ke timur dan hilang begitu cepat. Tak lama iapun kembali menampakan batang hidungnya. Dan tiba-ti...

Ada Senyum Di Ujung Senja

            Aku mencium tangan kedua orang tuaku dengan tergesa-gesa. Tak lupa aku ucapkan salam dan segera aku lambaikan tanganku serta beri senyuman semanis mungkin padanya.             Aku berlari kecil dari rumah menuju sekolah baruku. Ya, hari ini hari pertamaku masuk Sekolah Menengah Pertama. Dengan pakaian serba aneh karena tuntutan dan syarat MOS aku tetap pamerkan senyum sumringah dari wajahku disetiap langkahku menuju sekolah baruku. Tak peduli mana kala orang-orang melihatku berpenampilan seperti ini.             Sampai di gerbang yang bertuliskan Selamat Datang di SMP Negeri 1 Ajibarang, langkahku semakin cepat. Tak sabar aku masuk kesana. Namun, aku masih bingung dimana lokasi kelasku berada. Pandanganku kesana kemari seraya mencari-cari teman SDku, Rani. Kebetulan kita sama-sama diterima di sekolah i...

Diingatanku -1

            Senja ini cerah, tak seperti biasanya. Akhirnya aku merasakan lagi mentari sore yang hanya tinggal menampakkan setengah badannya setelah sekian hari aku tak dapat merasakan ini. Terima kasih Allah, aku senang sekali rasanya hari ini. "Ikut aku yukk!" ajak seseorang yang baru saja datang langsung menyambar tanganku dan menggandengnya lalu menariknya. Padahal aku sedang duduk dengan enaknya di ayunan halaman depan rumahku sambil mendengarkan lagu-lagu yang ada di playlist handphone ku. "Citraaa! Kebiasaan kamu ini, nyambar orang aja! Ikut kemana?" kesalku kepada orang yang menyambarku dan ternyata adalah Citra, sahabatku. "Udaaah, ayo ikut aja! Ke tempat yang indaaaaaah sekali." jawab Citra yang masih menggandeng tanganku dengan langkah yang begitu cepat menuju tempat yang dimaksudnya. "Ya kemana? Danau maksudmu?" tanyaku masih sedikit kesal karena genggaman tangan Citra yang begitu erat dan langkah yang sem...

Cerbung - Goresan Senja Part V (END)

***             Semua barang sudah beres. Sepertinya semua udah dimasukan ke dalam koper. Tinggal mental yang harus disiapkan. Waktu ini juga, aku harus pergi ke Batam. Good bye, all L             Tiba-tiba saja hpku berdering. Vio calling. What? Ngga salah lihat, tuh? Dia Cuma iseng paling. Tapi tak ada salahnya aku angkat. Sekalian aku mau pamit ke dia, hehehe.             “Halo..” sapaku duluan.             “Halo juga, Mega.” balas Vio.             “Ada apa kamu telepon aku? Kok tumben?” heranku.             “Aku mau bicara sama kamu, tapi nanti, ya. Waktu senja, deh. Kan kamu suka banget, tuh, sama senja. Ya...
Tulislah apapun itu, agar kamu merasa selalu ada.